DIALEKTIKA ISLAM DAN KEKERASAN
SURWANDONO (Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM)
Islam, sebuah agama yang sedang mengalami kontraksi luar dan dalam. Kontraksi dari luar berupa suatu konstruksi bahwa Islam adalah agama yang sangat berdekatan dengan perilaku ekstrim dan kekerasan.
Ka’bah: Peradaban Islam
Adalah seorang Karl Marx yang terkenal melakukan gugatan-gugatan terhadap kemapanan agama dan materialism. Dalam pandangannya, ada suatu relasi yang kuat antara watak/ide sebuah sebuah isme/agama dengan artefak dan bangunan monument-monumennya. Kritik terbesar Marx terhadap tradisi artefek dan bangunan monument adalah adanya suatu korelasi besar antara agama atau isme dengan kekerasan, darah dan revolusi. Sederhannya, 7 bangunan monumental dunia, meskipun sekarang sudah mengalami “revisi”, merupakan representasi nalar agama dan isme-isme dunia yang kental dengan aroma penindasan.
Dalam pandangan Marx, semua agama telah merepresesntasikan tradisi kekerasan dalam membangun peradaban, yang secara sederhana tergambar dalam bangunan bersejarahnya. Mari kita kritik pendapat Marx ini. Dalam pandangan penulis, ada beberapa fakta yang logic dari pernyataan Marx, jika kita menelisik sejarah kemanusiaan, hampir semua bangunan monumental dilakukan dengan tradisi kerja paksa demi mendapatkan kehormatan dan kewibawaan. Dari bangunan collosium, menara menjulang tinggi, tembok besar membentang, bangunan yang luas dan tinggi, ataupun jalan-jalan monumental. Secara kasat mata bisa dibandingkan dengan keadaan sekarang, bagaimana situs bangunan bersejarah ketika mengalami kerusakan maka akan menelan biaya yang sangat besar. Itu saja hanya dalam konteks merehap bukan membangun. Daendales ketika membuat jalan Anyer-Panarukan dengan kerja paksa (stelsel), demikian pula ketika pemerintah Jepang membangun jaringan kereta api maupun lapangan terbang di Indonesia juga menggunakan modus yang sama, yakni kerja paksa atau kerja rodi.
Kabah: Bangunan Tak-Berdarah
Bagaimana dengan bangunan monumental Islam ? Apakah kritik Marx terhadap “tradisi darah” peradaban Islam termanifestasikan dalam Ka’bah. Marx harus berfikir keras untuk menyakinkan dunia bahwa bangunan Ka’bah di Makkah telah memakan korban, dan dibangun dengan cara kerja paksa. Dan dipastikan sekuat apapun argument Marx, dipastikan argumennya tidak pernah mencapai momentum. Mengapa ?
Ka’bah merupakan representasi “the simple building”, masyarakat akan mudah mempercayai berita dari Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail telah berperan besar dalam meninggikan dan mengokohkan kembali bangunan Ka’bah. Hal ini bisa dijamin dari berita sejarah, baik dalam bentuk mitos atau legenda, yang tidak pernah menyembunyikan berita pendirian Ka’bah dengan cerita berdarah. Sangatlah berbeda dengan bangunan monumental lainnya, yang memerlukan legenda maupun mitos untuk menyembunyikan peristiwa berdarah dalam proses pembangunan. Bahkan banyak terungkap, bangunan monumental tersebut telah terkubur ratusan tahun dan kemudian baru ditemukan kembali keberadaannya. Mengapa ? Jawaban yang paling sederhana adalah masyarakat tidak memiliki keterikatan dengan bangunan monumental tersebut, sehingga jangan-jangan keberadaan bangunan tersebut lekat dengan cerita pilu yang menyayat hati. Sehingga mengidentikan Islam sebagai agama “darah”, agama yang tidak punya naluri perdamaian adalah sebuah kesesatan yang nyata dan cerminan orang tersebut tidak memiliki kesadaran sejarah.
Namun, banyak kalangan orientalis mencoba mencari nilai “darah” untuk meruntuhkan tradisi “salam” dengan menggunakan situs okupasi yang pernah dilakukan oleh regim-regim Islam. Dengan menguak proses okupasi (pendudukan) regim Islam terhadap suatu wilayah diharapkan akan dapat menemukan bukti kuat bahwa Islam merupakan agama “darah”. Namun kembali lagi upaya tersebut tidak mendapatkan momentum sejarah secara berarti.
Seorang Muhammad Imarah mencoba memberikan klarifikasi yang sangat menarik dan fair tentang hal ini dengan membandingkan derajat kekerasan okupasi regim Islam dengan regim-regim lainnya. Terdapat persamaan besar dalam kilasan sejarah dunia, bahwa okupasi suatu kekuasaan atas fihak lain identik dengan politik genosida dan inkuisisi. Sebagaimana pula yang dialami regim Abbasiyah ketika diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan, ataupun regim Islam Andalusia yang diratakan dengan tanah lewat politik Inkuisisi oleh Ratu Isabella. Regim emperium klasik semisal Yunani, Sparta, Athena, Persia, Romawi, Mongolia ketika menaklukan suatu wilayah pasti dengan politik “berdarah”. Hal ini pulalah yang terjadi dalam scenario perang Dunia I dan II, yang menempatkan fihak yang kalah, benar-benar jadi abu dan pesakitan.
Bagaimana dengan okupasi Islam; fakta sejarah menunjukkan teramat sedikit fakta yang bisa ditunjukkan sejarah untuk membenarkan bahwa regim Islam melakukan politik bumi-hangus dan genosida. Imarah menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri terdapat kekerasan dalam proses penguasaan wilayah oleh regim Islam, namun dengan catatan kaki, bahwa kekerasan tersebut tidaklah sebanding dengan kekerasan yang pernah dilakukan oleh regim-regim non Islam.
Sejarah penguasaan Makkah oleh Rasulullah akan memberikan contoh terbaik, bahwa proses okupasi Islam berjalan dengan damai. Tidak ada politik balas dendam yang dimobilisasi secara massal, tidak ada ladang pembantaian dan pembuatan bangunan dengan menggunakan tengkorak masyarakat yang ditaklukan. Kebijakan penaklukan mutakhir yang dilakukan Serbia atas Bosnia, Afhanistan dan Irak oleh AS, terus menunjukkan bahwa tradisi okupasi yang dilakukan masyarakat non muslim atas masyarakat Muslim belumlah berubah; Genosida dan inkuisisi.
Menjadi tanggung jawab bersama bagi umat Islam seluruh dunia untuk menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah agama kasih sayang. Kalaupun sekarang ini terdapat sekelompok kaum muslimin memilih melakukan aksi kekerasan terhadap komunitas lain, dipastikan pasti memiliki riwayat yang sangat khusus, namun yang lebih penting bahwa mayoritas kaum muslimin tidak memilih tradisi kekerasan untuk menunjukan peradaban Islam. Wallohu A’lam.
sebuah refleksi keagamaan tanpa rasa curiga dan perdebatan yg tak kunjung usai
Entri Populer
-
Usaha Awal untuk Menjelaskan mengenai TRINITAS oleh David Elsafan Masalah penjelasan dan penjabaran Trinitas memang bukanlah masalah ya...
-
Saksi Yehova (Pdt. Rubin Adi Abraham) August 21st, 2009 by apb user in Artikel Teologia KATA PENGANTAR “Saudara-saudaraku yang kekasih...
-
Betulkah yesus anak allah atau orang gila ?? atau sekedar menyuaran moral klik disini http://www.ziddu.com/download/13925339/ApakahYesusit...
-
SIAPAKAH ORANG PALESTINA ? APA & DI MANA PALESTINA?Pertanyaan-pertanyaan di atas akan terjawab setelah anda membaca artikel di bawah ...
-
DIALEKTIKA ISLAM DAN KEKERASAN SURWANDONO (Dosen Fisipol UMY dan Kandidat Doktor Ilmu Politik UGM) Islam, sebuah agama yang sedang menga...
Kamis, 23 Desember 2010
Siapakah orang palestina
SIAPAKAH ORANG PALESTINA ?
APA & DI MANA PALESTINA?Pertanyaan-pertanyaan di atas akan terjawab setelah anda membaca artikel di bawah ini. Bagaimanapun, fakta-fakta sejarah harus ditegakkan sekarang. Tidak pernah ada sebuah peradaban atau sebuah bangsa yang merujuk pada “Palestina” dan dugaan sebuah “negara Arab Palestina” yang memiliki bukti-bukti kuno merujuk ke Tanah Suci dari zaman dahulu sekali adalah salah satu cerita bohong terbesar yang pernah dibuat di dunia ini! Tidak ada, atau tidak pernah ada, sebuah kebudayaan atau bahasa “Palestina” yang jelas. Lebih lanjut, tidak pernah ada sebuah negeri Palestina yang dipimpin oleh seorang Palestina Arab dalam sejarah, atau tidak ada sebuah gerakan nasional Palestina-Arab yang serius sebelum tahun 1964… tiga tahun SEBELUM orang-orang Arab dari “Palestina” kehilangan Tepi Barat [Yudea dan Samaria] dan Jalur Gaza sebagai hasil dari Perang Enam-Hari tahun 1967 (yang dimulai oleh bangsa-bangsa Arab). Bahkan apa yang disebut sebagai bekas pemimpin bangsa “Palestina”, alm. Yasser Arafat, adalah seorang MESIR! Singkatnya, apa yang disebut sebagai “Palestina” Arab adalah bangsa buatan… sebuah bangsa tanpa sejarah dan tanpa otentisitas (keaslian)… yang tujuan keberadaannya semata-mata adalah untuk menghancurkan Negara Yahudi!Israel pertama kali menjadi sebuah negara pada tahun 1312 Sebelum Masehi (SM), 2000 tahun sebelum munculnya Islam! 726 tahun kemudian pada tahun 586 SM orang-orang Yahudi kuno ini di Tanah Israel [Yudea] diserbu dan Bait Suci Yahudi PERTAMA milik Israel (di Gunung Bait Kota Tua Yerusalem) dihancurkan oleh Nebukadnezar, raja Babylonia kuno. Banyak dari orang-orang Yahudi dibunuh atau dibuang; walaupun demikian banyak juga yang diperbolehkan untuk tetap tinggal di sana. Orang-orang Yahudi inilah bersama dengan anak-cucu mereka dan orang-orang Yahudi lain yang datang kembali untuk tinggal 500 tahun kemudian, membangun kembali Negara Israel dan juga Bait Suci Kedua di Yerusalem di atas Gunung Bait. Dengan demikian klaim bahwa bangsa Yahudi tiba-tiba muncul 50 tahun yang lalu persis setelah peristiwa Holocaust (pembantaian etnis Yahudi selama Perang Dunia II) kemudian ramai-ramai datang ke Palestina dan mengusir bangsa Arab adalah gila, sama sekali tidak masuk akal!
Kemudian pada tahun 70 Masehi (M) (hampir 2000 tahun yang lalu), giliran Kekaisaran Romawi yang memasuki Israel kuno dan menghancurkan Bait Suci Yahudi KEDUA, membantai atau mengusir banyak dari populasi bangsa Yahudi. Banyak orang-orang Yahudi meninggalkan harta bendanya sebab tidak tahan akan kondisi kehidupan di sana dalam berbagai hal… walaupun demikian ribuan orang Yahudi tetap tinggal di sana dan memberontak selama berabad-abad dengan tujuan untuk membangun kembali sebuah Negara Yahudi di Tanah Suci ini.
Selama 3250 tahun, berbagai macam Bangsa, Agama dan Kekaisaran menduduki Yerusalem, ibukota kuno milik Israel. Wilayah itu berturut-turut dikuasai oleh bangsa Ibrani [Yahudi], Assyria, Babylonia, Persia, Yunani (Makedonia), Makkabe [Yahudi], Romawi, Byzantium, Arab, Mesir, Eropa prajurit Perang Salib, Mameluk, Turki (yang menguasainya tapi kurang perhatian, membuatnya menjadi terbelakang, mengabaikan daerah itu dari abad ke-16 sampai Inggris mengusir mereka selama Perang Dunia I) dan kemudian sekali lagi oleh bangsa Yahudi pada tahun 1948. Tidak satupun dari mereka yang berupaya keras, atau setidaknya memiliki sedikit niat, untuk membangun sebuah Negara milik mereka sendiri… KECUALI bangsa Yahudi!
Haruslah dicatat bahwa pada tahun 636 M, ketika orang-orang Arab perampok datang ke tanah itu dan beranak-pinak bahkan melebihi orang-orang Yahudi, mereka tidak membentuk satupun negara Arab di sana… dan tentu saja tidak sebuah negara “Palestina”. Mereka hanyalah “orang-orang Arab” yang, seperti dilakukan juga oleh bangsa-bangsa lain sebelum mereka, berpindah ke sebuah area geo-politik bernama “Palestina!” Dan ingatlah satu fakta ini… orang-orang Yahudi tidak”merebut” (kata kesukaan dari orang-orang Arab pelaku propaganda) tanah tersebut dari orang-orang Arab. Jika mau jujur, orang-orang Arab-lah pada tahun 636 M yang menyerbu dan mencurinya dari orang-orang Yahudi!
Kesimpulan:
Tidak ada negara, selain negara kuno Israel dan kemudian lagi pada tahun 1948 dengan kelahiran kembali Negara ke-2 Israel, pernah memimpin sebagai sebuah entitas nasional berdaulat di atas tanah ini. Kekaisaran Yahudi yang perkasa menguasai dalam jangka waktu panjang seluruh area ini bahkan sebelum bangsa-bangsa Arab – dan Islam mereka – pernah dilahirkan! Bangsa Yahudi memiliki salah satu Akte Kelahiran paling sah daripada bangsa-bangsa apapun di dunia. Setiap dilakukan penggalian arkeologi di Israel, hanyalah mendukung fakta bahwa Bangsa Yahudi telah berada di sana selama 3.000 tahun. Koin mata uang nasional, barang-barang pecah belah, kota-kota, tulisan-tulisan Ibrani kuno… semuanya mendukung klaim ini. Ya, bangsa-bangsa lain juga telah mendiaminya, tetapi tidak ada fakta yang keliru bahwa bangsa Yahudi berada di tanah itu secara terus-menerus selama lebih dari 3.000 tahun. Hal ini mendahului dan tentunya mengecilkan klaim-klaim yang dimiliki bangsa-bangsa lain di wilayah itu. Bangsa Filistin kuno sudah punah. Banyak bangsa-bangsa kuno lainnya sudah punah. Mereka tidak memiliki garis tanpa putus sampai saat ini seperti yang dimiliki orang-orang Yahudi. Dan jika anda ingin membicarakan agama, baik. TUHAN MEMBERI Tanah Israel kepada Bangsa Yahudi. Dan TUHAN melakukannya bukan kebetulan!
“PALESTINA?”
Istilah “Palestina” datang dari nama yang diberikan oleh penjajah Kekaisaran Romawi kepada Tanah Israel kuno dalam usahanya untuk menghapus dan menghilangkan keabsahan keberadaan Yahudi di Tanah Suci. Nama “Palestina” ditemukan pada tahun 135 SM. Sebelumnya dikenal sebagai Yudea, yang merupakan kerajaan selatan dari Israel kuno. Penguasa Romawi yang bertanggungjawab atas daerah Yudea-Israel begitu marah terhadap orang-orang Yahudi dengan pemberontakan mereka sehingga ia memanggil para ahli sejarahnya dan bertanya kepada mereka siapa musuh bebuyutan dari bangsa Yahudi di dalam sejarah masa lalu mereka. Para ahli tulisan berkata, “bangsa Filistin.” Maka, Penguasa mendeklarasikan bahwa Tanah Israel selanjutnya akan disebut ”Filistia” [selanjutnya diharam-zadahkan menjadi "Palaistina"] untuk mempermalukan bangsa Yahudi dan menghapuskan sejarah mereka.
Karena itu namanya ”Palestina.”
Satu hal lagi. Sangatlah sering seseorang mendengar para pelaku revisi dan propaganda menemukan hubungan sejarah kuno antara “Filistin” (”Penyerbu” dalam bahasa Ibrani) dan Arab “Palestina.” Tidak ada kebenaran terhadap klaim ini!
Bangsa Filistin adalah salah satu dari sejumlah Bangsa Pelaut yang mencapai wilayah Mediterranea timur kira-kira pada tahun 1250-1100 SM. Mereka sebenarnya merupakan sebuah campuran dari beberapa kelompok etnis, terutama dari laut Aegea dan asal usul Eropa tenggara [Yunani, Kreta dan Turki Barat] dan mereka meninggal lebih dari 2.500 tahun yang lalu! Para Filistin tersebut bukanlah Arab… dan begitu juga Delilah dan Goliat! Melainkan orang Eropa. Para Arab “Palestina” hanyalah… Arab! Dan jika para Arab “Palestina” ini memiliki akar sejarah dengan bangsa Filistin kuno itu sama saja seperti menghubungkan Yasser Arafat dengan bangsa Eskimo!
Para penduduk kuno dari Palestina sudah lama punah dari bumi. Bangsa Kanaan, Fenisia (Libanon kuno) dan Filistin, semuanya dikalahkan oleh bangsa Israel sebelum tahun 1060 SM. Kebanyakan dari identitas-identitas budaya ini lenyap pada era neo-Babylonia, atau, abad ke-6 SM. Bangsa-bangsa Arab bahkan tidak berada di Palestina sampai pertengahan abad ke-7 M, setelah seribu tahun kemudian, setelah sejarah Yahudi 1.300 tahun di Palestina. Bangsa-bangsa Arab yang kemudian tinggal di Palestina tidak pernah membangun diri mereka sendiri atau tanah tersebut, melainkan tetap sebagai pengembara dan pura-pura primitif.
Bahkan kata “Palestina” tidak punya arti dalam bahasa Arab – setiap kata dalam bahasa Arab memiliki arti yang berasal dari Al Qur’an, tetapi kata “Palestina” tidak. Jika mau jujur, nama “Palestina” selalu di-asosiasikan dengan orang-orang Yahudi. Dalam tahun-tahun yang menuju kepada kelahiran kembali Israel pada tahun 1948, mereka yang berbicara mengenai “Palestina” hampir selalu merujuk kepada penduduk Yahudi di wilayah itu. Sebagai contoh, surat kabar “Palestine Post” [menjadi ”Jerusalem Post” yang sekarang] dan “the Palestine Symphony Orchestra” semua anggotanya orang Yahudi. “Resimen Brigade Palestina” secara eksklusif terdiri dari para sukarelawan Yahudi di Angkatan Darat Inggris untuk Perang Dunia II. Dalam kenyataannya, para pemimpin Arab menolak gagasan identitas unik “Arab Palestina”, malahan bersikeras bahwa Palestina hanyalah bagian dari “Suriah Raya.”
KEMBALI KE ZION (SION)
Kembali melalui baik ruang dan waktu ke tanah leluhur mereka. Zion adalah gunung/bukit tempat kota Yerusalem.
Tanah Israel tidak pernah tanpa orang Yahudi sama sekali, walaupun pada beberapa waktu jumlahnya hanya puluhan ribu. Ini disebabkan tanah itu sebenarnya tak dapat dihuni ketika orang-orang Yahudi sekali lagi memulai hak pemberian TUHAN dan kewajiban untuk kembali secara besar-besaran ke tanah dari nenek moyang mereka (Gerakan Zionis) dalam tahun 1880-an.
Retorik lucu tentang keberadaan Arab dalam jumlah besar yang diserbu oleh “orang-orang Yahudi yang menginvansi ” dengan cepat terhapuskan oleh Mark Twain, yang mengunjungi daerah itu pada tahun 1867. Dari bukunya, “The Innocents Abroad”…
“Sebuah Negara terpencil yang tanahnya cukup kaya, namun seluruhnya cocok untuk berkabung… sebuah permukaan luas untuk berdukacita yang sunyi…. sebuah ketandusan…. kami tidak pernah melihat seorang manusiapun di seluruh rute perjalanan…. nyaris tidak ada pohon atau semak belukar di manapun. Bahkan pohon zaitun dan kaktus, tanaman-tanaman pendamping puasa dari sebuah tanah yang tak berharga, nyaris meninggalkan negeri itu.”
Orang-orang Yahudi tidak menggantikan siapapun, sebab sangat sedikit orang-orang yang benar-benar memiliki tanah itu. Kebanyakan merupakan para pemilik yang tidak berada di tempat itu, yang tinggal di tempat lain. Fakta yang lain yang hampir tidak diperlihatkan oleh “para ahli sejarah baru” adalah bahwa orang-orang Yahudi yang tiba di sana tidak pernah mengusir seseorang dari tanah itu. Semua tanah dibeli secara legal dari para pemilik semula… apakah mereka dari “Palestina” itu sendiri ataupun dari tempat lain. Lagi pula, jumlah dolar yang banyak dibayarkan untuk tanah itu yang, dalam banyak kasus, tidak berpenghuni dan hampir tidak lebih dari tanah rawa-rawa dan daerah berbatu-batu. Hanya sekitar 120.000 orang Arab tinggal di sebuah daerah yang sekarang membentuk Negara Israel, Yordania dan yang disebut sebagai “Tepi Barat” [Yudea dan Samaria] di antaranya. Pada tahun 1890, jumlah orang Yahudi yang telah menetap di Palestina mencapai 50.000 jiwa, pada tahun 1907, berjumlah 100.000 jiwa. Di Yerusalem sendiri orang-orang Yahudi berjumlah lebih dari 25.000 jiwa, dari total populasi di kota tersebut yang hanya berjumlah 40.000 jiwa orang Yahudi, Kristen dan Arab. Orang-orang Arab, bagaimanapun, memang adalah penduduk mayoritas di pinggiran negeri yang jarang penduduknya, yang berbatasan dengan Yerusalem.
Dari tahun 1888 sampai tahun 1915 terdapat sekitar enam kali wabah belalang yang membuat tanah itu hampir tidak dapat dihuni. Pada tahun 1915 sebuah wabah belalang menyebabkan sekitar 40.000 orang meninggal dan sejumlah besar orang-orang Yahudi dan Arab meninggalkan tanah itu. Mereka-mereka yang kembali tidak melakukannya sampai sekitar tahun 1922 ketika uang para Zionis untuk mengklaim kembali tanah itu mulai datang dan sebuah jalur pipa dipasang. Kemudian mulailah berdatangan baik orang-orang Arab dan Yahudi dalam jumlah besar.
Para Zionis Yahudi di Palestina mula-mula adalah para pelopor idealistis yang tiba di pra-negara Israel itu dengan itikad untuk tinggal dengan damai bersama tetangga Arab mereka dan meningkatkan kualitas hidup bagi semua penduduk tanah itu. Para Zionis pra-Israel (dan kemudian menjadi Israel) telah mencoba untuk membangun secara damai bagi manfaat bersama Yahudi dan Arab di tanah itu. Tetapi kepemimpinan Arab selalu, dimulai di masa-masa awal, mengambil jalan hina dengan bersikeras bahwa solusi satu-satunya adalah orang-orang Yahudi harus keluar dari tanah itu, bahkan jika itu berarti melanjutkan kemiskinan dan stagnasi. Jika permintaan Arab tidak dipenuhi, mereka selalu mengambil jalan dengan kekerasan.
Mayoritas jumlah besar dari orang-orang Arab datang ke daerah itu setelah para pelopor Zionis pertama-tama ini mulai mengeringkan rawa-rawa yang terinfeksi malaria dan membajak tanah itu! Dalam melakukannya, orang-orang Yahudi ini menciptakan peluang-peluang ekonomi dan ketersediaan medis yang menarik orang-orang Arab baik dari teritori di sekeliling dan daratan-daratan yang jauh! Dalam kenyataannya, 90% dari orang-orang Arab bermigrasi ke sana dalam 100 tahun terakhir. Kebanyakan dari orang-orang Arab di “Palestina” merupakan para penyelundup dan penduduk liar yang berasal dari Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan daratan-daratan lain yang hanya mengambil kepemilikan bagian-bagian tanah. Hal ini begitu melemahkan klaim mereka bahwa mereka telah berada di sana sejak “zaman dahulu kala!” Orang-orang Arab ini datang dari kumpulan suku-suku yang tak teratur dengan tradisi saling menteror terus-menerus dan mencoba untuk merampas tanah dari tetangga mereka. Kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang buangan sosial dan para pelaku kriminal yang tidak dapat menemukan pekerjaan di negara-negara mereka sendiri maka mereka mencari keberuntungan mereka di tempat lain. Sayangnya, para imigran Arab ini memasukkan ke dalam Tanah Suci kebudayaan tua mereka menteror tetangga untuk merampas tanah. Dalam kenyataannya, bangsa “Palestina” Arab yang sekarang, yang dipimpin oleh Ismail Haniyah dan Hamas-nya (Hamas… tidaklah lebih dari Sebuah Jaringan Para Pembunuh Menyamar Sebagai Pemerintah!) tetap tidaklah lebih dari para penjahat kejam jalanan, penggertak dan ‘Saddam Kecil’ yang dibangun di suatu tempat di seluruh kebanyakan dari dunia Arab. Sementara itu PLO (Palestine Liberation Organization / Organisasi Pembebasan Palestina) sekarang sudah tidak pernah kedengaran lagi sepak terjangnya.
Namun sementara para Yahudi yang kembali sangat termotivasi untuk memperbaiki tanah itu, para Arab dibakar oleh rasa iri hati dan kebencian karena ketiadaan mereka dalam hal kepemimpinan untuk menginspirasi dan memotivasi mereka akan keberadaan mereka di sana, dalam kenyataannya, mereka adalah orang asing secara sejarah terhadap tanah itu! Tidak seperti para Yahudi, orang-orang Arab itu yang berimigrasi ke sana tidak memiliki bukti-bukti kuno yang mengarah ke tanah itu atau kenangan-kenangan sejarah tanah kampung halaman … Tanah kuno orang Yahudi ini!
Masalah nyata yang dihadapi para Arab itu saat ini adalah ketiadaan sebuah tanah kampung halaman. Sebab-akibat sejarah dari masalah mereka dan rasa frustrasi adalah fakta bahwa negara-negara tempat mereka berasal tidak bersedia menerima mereka kembali. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak dari mereka tinggal, sampai saat ini, di dalam kamp-kamp pengungsi, di negara-negara Arab tetangga, tanpa hak-hak sipil yang fundamental. Dalam rasa frustrasi, mereka merasa bahwa satu-satunya harapan dan pilihan yang dimiliki mereka adalah mencoba dan mencuri negara orang lain!
Kesimpulan:
Tidak ada sejarah orang “Palestina Arab” sebelum orang-orang Arab membuatnya dengan singkat setelah tahun 1948, dan kemudian khususnya setelah bulan Juni 1967 Perang Arab-Israel! Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Belanda “Trau” (31 Maret 1977), anggota komite eksekutif PLO Zahir Muhsein berkata, “Bangsa Palestina itu tidak ada. Penciptaan sebuah negara Palestina hanyalah cara untuk melanjutkan perjuangan kami menentang negara Israel bagi persatuan Arab. Dalam kenyataan sekarang tidak ada perbedaan antara orang Yordania, Palestina, Suriah dan Libanon. Hanya untuk alasan politis dan taktis kami sekarang berbicara tentang eksistensi dari sebuah bangsa Palestina, semenjak kepentingan nasional Arab mengharuskan kami menerima eksistensi dari sebuah ‘bangsa Palestina’ yang jelas untuk menentang Zionisme. Telah ada juga sebuah perang “konsep” untuk kepemilikan istilah “Palestina” yang telah dipindahkan kepada Arab di mana, sebelum tahun 1967, “Palestina” selalu sinonim dengan negara Eretz Israel dan Tanah Israel.
Situs-situs Arkeologi sampai hari ini terus berlanjut untuk menghasilkan artifak-artifak dengan tulisan Ibrani (bahasa Yahudi), bukan teks fiksi “Palestina” atau huruf Arab!
Apa yang disebut sebagai bangsa Arab “Palestina” hanyalah, sebagaimana mereka sekarang, adalah bangsa Arab yang tidak berbeda secara budaya, sejarah ataupun etnis dari bangsa Arab lain yang tinggal di mana saja dari ke-24 negara-negara Arab tempat asal mereka beremigrasi. Gagasan bahwa bangsa “Palestina” adalah semacam sub-kelompok dari bangsa-bangsa Arab dengan identitas unik mereka sendiri adalah fiksi murni! Propaganda hebat… namun tetaplah fiksi murni! Dan jika para Arab TIDAK melanjutkan pencucian otak generasi demi generasinya untuk percaya OMONG KOSONG SEJARAH ini tentang kaitan “Palestina Arab” kuno dengan Tanah Suci, kebanyakan dari mereka mungkin telah mendapati diri mereka sendiri adanya sebuah kehidupan nyata yang sekarang dengan sedikit pertumpahan darah dan keprihatinan penderitaan bagi setiap orang!
Ingat: Ketika kami menggunakan bahasa mereka (contoh: “Tepi Barat” bukannya Yudea-Samaria, “wilayah yang dijajah ” bukannya tanah-tanah Yahudi yang dibebaskan, “perkampungan-perkampungan” bukannya komunitas Yahudi, “Palestina” bukannya Arab, “Haram esh Sharif” bukannya Gunung Bait, dll.), kami mengizinkannya dipakai untuk mendefinisikan isu-isu, menciptakan atau mengubah sejarah dan mengendalikan debat.
KESERAKAHAN, KESOMBONGAN, IRI HATI!
Bangsa-bangsa Arab dan/atau Muslim saat ini mengendalikan 22 negara… 99 persen dari KESELURUHAN tanah besar Timur Tengah sementara Israel menduduki hanya 1/2 dari 1 persen bintik noda di atas peta yang sama ini. Tetapi bagian itu tetaplah terlalu banyak bagi orang-orang Arab untuk dibagikan. Mereka menginginkan semuanya. Seberapa sering kita mendengar tangisan terkenal mereka, “Kami akan berjuang sampai titik darah terakhir untuk setiap butir tanah terakhir!” Dan itulah yang pada akhirnya dipersoalkan di semua peperangan sekarang ini. Dan seberapapun banyaknya konsesi-konsesi tanah yang mungkin dibuat oleh orang-orang Israel bagi “perdamaian,” itu tidaklah pernah cukup! Perjanjian damai apapun antara Israel dan dunia Arab pada akhirnya tidak berarti. Perjanjian yang baru-baru ini diadakan, yaitu “Persetujuan Damai Oslo” tahun 1993 tidak membawa hasil apapun kecuali para pembom pembunuh ke dalam Israel. Bahkan perjanjian-perjanjian damai Israel-Mesir dan Israel-Yordania dibuat dengan sebuah berkas tunggal dan, jika anda membaca surat-surat kabar mereka, yang dikendalikan oleh pemerintah, anda akan berpikir mereka masih berperang dengan Israel!
PERDAMAIAN ITU TIDAK MUNGKIN!
Tidak Ada Lagi “Moderat” di Timur Tengah
Sejak Bangsa Yahudi membangun kembali kedaulatan di tanah kuno kampung halaman mereka, mereka mencari perdamaian sejati dengan para tetangga mereka. Sayangnya, para tetangga mereka tidak berkeinginan untuk berbagi eksistensi secara damai bersama mereka. Mereka, seperti Bin Laden saat ini, merasa bahwa mereka memiliki kewajiban agama untuk menghancurkan Negara Yahudi non-Arab/Muslim (dan, untuk hal itu, SEMUA pemerintahan non-Arab/Muslim di dunia). Kampanye Arab melawan Israel tidaklah berakar di dalam segala keluhan-keluhan yang bisa dinegosiasikan, melainkan di dalam sebuah perlawanan dasar terhadap eksistensi kedaulatan Yahudi di dalam wilayah yang mereka rasa sebagai Timur Tengah MEREKA! Tujuan akhir para Arab adalah menghapus sejarah Yahudi dari “Palestina”… dan kemudian menghapus Israel dari permukaan Bumi.
Ketika PLO dibentuk pada tahun 1964, tujuan utamanya adalah menghancurkan Israel. Setelah Perang Arab-Israel 1967, tujuan mereka menjadi dua-jalur: Selain (1) menghancurkan Israel sekaligus (sama dengan tujuan sebelum tahun 1967) juga (2) membentuk negara Palestina-Arab untuk digunakan sebagai tempat landasan untuk menghancurkan negara Israel. Strategi-strategi yang berbeda, namun tujuan akhir sama… sebuah negara TANPA BERDAMPINGAN dengan ISRAEL, tetapi DI TEMPAT ISRAEL. Itu saja… sangat sederhana!
YERUSALEM DAN GUNUNG BAIT
Selama 3.300 tahun sejarah, Yerusalem merupakan ibukota hanya untuk Bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi selalu tinggal di Yerusalem, kecuali ketika mereka dibantai atau diusir. Terdapat, bagaimanapun, keberadaan Yahudi yang nyaris tak putus-putus di Yerusalem untuk masa 1.600 tahun terakhir. Dan sejak permulaan tahun 1800an, populasi Yerusalem telah didominasi oleh orang-orang Yahudi. Bahkan ketika orang-orang Yordania merebut dan menduduki Yerusalem dari tahun 1948-1967, mereka (orang-orang Yordania) tidak pernah berupaya untuk mengubahnya menjadi ibukota mereka (menggantikan Amman) ataupun menjadikannya ibukota dari semua bangsa “Palestina”-Arab. Bahkan selama 19 tahun Yordania “menduduki” sebagian besar Yerusalem, para pemimpin Arab dari negara-negara Arab yang lain nyaris tidak pernah berupaya untuk mengunjungi kota ini! Hanya kepada bangsa Yahudi-lah Yerusalem memiliki arti khusus yang mendalam!
Kenyataannya adalah bahwa Yerusalem tidak pernah menjadi sebuah ibukota Arab dan ia tidak pernah menjadi, jika orang-orang Yahudi memperbaikinya, sebuah kota propinsi yang berdebu yang sukar memainkan peranan ekonomi, sosial ataupun politik.
Ada mitos yang lain sehubungan dengan isu Yerusalem dan Gunung Bait-nya. Mitos itu adalah bahwa Yerusalem adalah benar-benar sebuah kota Arab dan maka ia adalah fokus pusat Islam. Sesungguhnya adalah bahwa bangsa-bangsa Arab memperlihatkan sedikit ketertarikan (interest) terhadap Yerusalem sebelum tahun 1967 setelah Perang Enam-Hari. Lagi pula, Mekkah dan Medinah (keduanya di Arab Saudi) adalah kota paling suci Islam!
Kitab Suci Al Qur’an Islam menyebut Mekkah 2 atau 3 kali (secara tidak langsung, namun tidak benar-benar tertulis). Ia menyebut Medinah 5 kali. Ia tidak pernah menyebut nama Yerusalem. Tidak ada bukti sejarah yang mendukung gagasan Muhammad pernah mengunjungi Yerusalem! Dan jika ia benar-benar mengunjungi Yerusalem, tidaklah mungkin sampai 6 tahun setelah kematiannya. Oleh karena itu, dugaan bahwa Muhammad naik ke Surga (Isra Miraj) dari sebuah bukit batu di Yerusalem (Dome of the Rock yang sekarang) adalah sangat menggelikan!
Satu hal lagi tentang Yerusalem secara umum dan Gunung Bait-nya secara khusus. Yerusalem muncul di dalam Alkitab Yahudi 669 kali dan Zion (yang biasanya berarti Yerusalem, kadang-kadang Tanah Israel) 154 kali, atau 823 kali seluruhnya. Alkitab Kristen menyebut Yerusalem 154 kali dan Zion 7 kali. Semuanya diberitahukan, di Perjanjian Lama (Alkitab Ibrani) dan Perjanjian Baru, istilah “Yehuda” atau “Yudea” muncul 877 kali, dan “Samaria” digunakan di 123 kejadian.
Ini makin lebih baik lagi. Lihatlah lebih dekat Al Qur’an Suci mereka, kami telah mengungkap sesuatu yang sangat menakjubkan. Para Muslim ini mungkin sebenarnya lebih bersifat Yahudi dari pada Muslim! Al Qur’an menyebut “Israel” 47 kali, “Yahudi” 26 kali! Bahkan “Kristen” memperoleh 15 penyebutan!
OK, jadi mungkin Muhammad hanya lupa untuk menyebut “Yerusalem”. Mungkin ia juga lupa menyebut Haram-esh-Sharif, nama versi mereka untuk Gunung Bait Yudaisme. Mungkin ini adalah sebuah kelalaian yang jujur. Panasnya padang gurun pasir bisa melakukan hal-hal aneh terhadap otak seseorang. Tetapi seharusnya “Palestina” disebut-sebut di seluruh Al Qur’an. Lagi pula, bangsa “Palestina” kuno kembali pulang, benar? SALAH. “Palestina” dan “bangsa Palestina” tidak dapat ditemukan di manapun. Mungkin inilah sebabnya dengan apa yang disebut “Palestina” Arab ini yang katanya memiliki akar sejarah kuno SEMUA KEMBALI PULANG pada bulan Juni 1967!
Begitu banyak hubungan kuno agama dan fisik bagi orang-orang Arab, Muslim atau “Palestina” kepada satu ons lempengan tanah di tempat yang disebut wilayah “yang diduduki”!
Dari tahun 1948 sampai 1967, ketika Yerusalem Timur dan Gunung Bait “diduduki” oleh Pasukan Yordania menyusul Perang Arab-Israel 1948-9, Yerusalem sendiri diabaikan oleh dunia Arab. Tidak ada pemimpin Arab pernah berkunjung, bahkan tidak berdoa di Mesjid al-Aqsa atau Dome of the Rock (keduanya berlokasi di Gunung Bait YAHUDI). Juga perlu dicatat selama periode 19 tahun pendudukan Yordania ini, tidak seorangpun Yahudi diizinkan di sana… tidak ada yang bisa dilihat bagi mereka karena orang-orang Arab menghancurkan 58 buah sinagog-sinagog Yahudi di Yerusalem! Bahkan para Arab dari “Palestina” menempatkan prioritas yang begitu rendah terhadap Yerusalem di mana piagam pendirian PLO, Perjanjian Nasional Palestina tahun 1964, tidak membuat keterangan apapun tentang Yerusalem. Hanya ketika kaum Yahudi merebutnya kembali setelah “Perang Enam Hari” 1967 (yang dimulai oleh bangsa-bangsa Arab) dunia Arab TIBA-TIBA menjadi bergairah dengan Yerusalem!
Dapatkah siapa saja satu orang Muslim di dunia ini menghasilkan bukti yang dapat dipercaya mengenai hubungan mereka dengan tempat suci ini, selain mimpi Muhammad? Percaya atau tidak, ada satu dan hanya satu-satunya sumber bagi klaim Muslim terhadap Yerusalem dan tempat Gunung Suci ini, adalah penyebutan di Al Qur’an mengenai mimpi Muhammad akan “tempat jauh” yang tidak diketahui. Mungkin “tempat jauh” ini adalah Gedung Putih di Washington DC atau “peternakan ayam” di Nevada?
Sesungguhnya, Dome of the Rock dan mesjid Al-Aqsa hanyalah dua dari ratusan ribu mesjid-mesjid Muslim di seluruh dunia. Kecuali untuk dua mesjid kecil, Yerusalem sendiri tidak punya arti penting bagi Islam. Dalam kenyataannya, terdapat lebih banyak tempat-tempat suci umat Kristen di Yerusalem dari pada milik Muslim!
Minggu, 19 Desember 2010
Trintas sebuah pertanyaan
Usaha Awal untuk Menjelaskan mengenai TRINITAS
oleh David Elsafan
Masalah penjelasan dan penjabaran Trinitas memang bukanlah masalah yang seharusnya menjadi konsumsi ukuran pikiran manusia, karena kita sebagai ciptaan bukanlah dirancang untuk dapat melakukan bedah ilmiah mengenai zat dan misteri ke-Allahan. Tetapi tidak salah jika kita menelaah, mempelajari, mengimani apa yang telah dinyatakan kepada kita. Apabila kita renungkan, maka sangatlah sulit bagi sebuah boneka kayu mencoba menerangkan zat, fungsi sel, otak, fungsi tubuh, serta pikiran manusia pembuatnya. Padahal apabila dibandingkan jarak antara boneka kayu dan pembuatnya, kemudian dibandingkan dengan jarak antara ciptaan dan Pencipta, maka masih lebih jauh jarak antara ciptaan dan Pencipta, karena manusia masih tidak bisa menciptakan kayu, hanya bisa membuat boneka, sedangkan Khalik kita menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Dan dalam kehinaan sebuah ciptaan, dan kemuliaan Pencipta inilah yang harus kita sadari, bahwa ilmu pengetahuan manusia itu sangat terbatas dibandingkan dengan kebijaksanaan Pencipta.
Mengingat hal ini, maka tulisan saya akan saya bagi menjadi tiga bagian:
1. Landasan Kepercayaan Kekristenan atas Trinitas.
2. Ulasan Sehubungan Dengan Apa Yang Saya Percayai Mengenai Trinitas
3. Meninjau beberapa ajaran yang bertentangan dengan Trinitas yang telah muncul di gereja kita di Indonesia.
Dengan demikian maka ulasan saya hanyalah sebuah usaha seekor (seorang manusia) yang tidak dalam posisi untuk menguraikan Penciptanya, tetapi membagikan kebahagiaan sebagai ciptaan yang beriman kepada Trinitas.
Tuhan adalah jauh lebih besar daripada yang kita dapat pikirkan, manusia tidak dapat menjangkau pikiran-pikiran Tuhan, tetapi beriman berdasarkan apa yang dinyatakan saja. (Ula 29:29).
Ayub 11:7,8 "Apakah engkau dapat menyelami alam pikiran dan maksud-maksud Allah yang dalam? Apakah dengan penyelidikanmu engkau dapat mengetahui segala-galanya tentang Yang Mahakuasa? (8) Alam pikiran Allah jauh lebih tinggi daripada langit, sedangkan engkau ini siapa? —Jauh lebih dalam daripada dunia orang mati. Apakah yang dapat kauketahui? (FAYH * lihat catatan)
Ayub 37:23 Kita tidak dapat mengerti kehebatan Allah Yang Mahakuasa, tetapi demikian adil serta penuh rahmat dan tidak menindas kita. (FAYH)
Rom 11:33-36 Oh, alangkah menakjubkannya Allah kita! Betapa besar kebijaksanaan, pengetahuan, dan kekayaan-Nya. Betapa tidak terpahami keputusan-keputusan dan cara-cara-Nya! (34) Sebab siapa di antara kita yang dapat mengetahui pikiran Tuhan? Siapa yang sedemikian dalam pengetahuannya, sehingga dapat menjadi penasihat dan pembimbing-Nya? (35) Dan siapakah yang pernah dapat memberikan cukup banyak kepada Tuhan, sehingga dapat menuntut sesuatu dari Dia? (36) Sebab segala sesuatu berasal dari Allah. Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya. Bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya. (FAYH)
*(Catatan: FAYH adalah Firman Allah Yang Hidup, yaitu Alkitab dalam bahasa Indonesia sehari-hari terbitan Kalam Kudus)
Membahas mengenai hal ini adalah hal yang mulia, dan kita semua perlu bergumul dalam doa, sebagaimana Ny. White menulis sehubungan pendekatan pada saat kita mempelajari misteri Ke-Allahan dan juga Yesus yang menjadi manusia.
Inilah kutipan Ny. White sehubungan dengan ruang lingkup yang sangat mulia ini.
When we approach the subject of Christ's divinity clothed with the garb of humanity, we may appropriately heed the words spoken by Christ to Moses at the burning bush, "Put off thy shoes from off thy feet, for the place whereon thou standest is holy ground." We must come to the study of this subject with the humility of a learner, with a contrite heart. And the study of the incarnation of Christ is a fruitful field, and will repay the searcher who digs deep for hidden truth (MS 67, 1898). {7BC 904.11}.
BAGIAN I
1. LANDASAN KEPERCAYAAN KEKRISTENAN ATAS TRINITAS
Kata Trinitas sendiri tidak pernah disebut dalam Alkitab dan tulisan Ny. White, tetapi pengertian dan pengalaman murid-murid atau umat Tuhan menunjukkan adanya Trinitas.
Definisi teologi dari Trinitas: Term for the Orthodox Christian conception of God as one being in three persons – Father, Son, and Holy Spirit (The Dictionary of Religious Terms, Donald T. Kauffman, ed., Fleming H. Revell Co., 1967).
Doktrin Trinitas adalah hasil dari iman orang Kristen atas apa yang dinyatakan Alkitab, sehubungan dengan Ke-Allahan.
1. FAKTA YANG PERTAMA: Alkitab menyatakan bahwa Allah itu hanya satu, yang namanya disebut YHWH – (Kemudian ada yang menambahkan huruf hidup diantaranya menjadi Yahweh atau Jehovah, dan ada yang menyebut Yehuwa.)
Ayat-ayatnya: Kel 8:10; 9:14; Ula 4:35; 6:4; 1 Raj 8:60; Maz 83:18; 86:10; 97:9; Yes 42:8; 45:5,6,14,18,21,22; 48:11; Zak 14:9; Mar 12:29-32; Yoh 17:3; 1 Kor 8:4,6; Efe 4:6; 1 Tim 2:5.
Ayat yang terkenal yang selalu dipakai adalah Ula 6:4.
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”
(shema Yisrael, Yehovah Eloheinu, Yehovah achad.)
(Syema Ysrael, Adonai Elohenu, Adonay Ehad".)
"Hai umat Israel, dengarkanlah: Yahweh, TUHAN Allah kita, adalah TUHAN yang esa” (FAYH)
Jadi fakta yang ada di Alkitab, bahwa Tuhan (YHWH) adalah Esa, dan kata yang dipakai adalah Achad (tunggal) bukan Yachad (jamak).
2. FAKTA YANG KEDUA: Di Alkitab Allah berbicara mengenai Diri-Nya dalam bentuk jamak – Kej 1:26; 3:22; 11:7.
Apabila kita teliti, maka dari ayat-ayat pertama dalam Alkitab sudah disebutkan adanya:
Allah sang Pencipta, dan pada saat menciptakan sudah menyatakan kejamakannya.
Kej 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Kej 1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
Kej 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Jadi ada Allah, ada Roh Allah, dan jelas jamak karena menyebut Kita. (di Alquran juga jamak Kami).
Apakah Tuhan tidak mengerti perbedaan Tunggal dan Jamak sehingga membingungkan manusia, atau memang Tuhan sangat mengerti dan menyatakan diri-Nya dalam bentuk satu Kesatuan yang terdiri dari beberapa pribadi (yaitu tiga).
Kemudian dari pernyataan Alkitab, dan Bapa sendiri, ada oknum lain yang berhak memakai kata Allah, yaitu Anak-Nya. (sudah begitu banyak ayat-ayatnya, dan pernah saya kirimkan dalam satu bentuk makalah).
3. Alkitab menyatakan sifat-sifat Ilahi (Ke – Allahan):
KEKAL (tidak berawal dan berakhir): Kel 3:14; Maz 90:2; 102:24-27; Ibr 1:2; Wah 1:8
MAHA HADIR: 1 Raj 8:27; Max 139:7-12; Jer 23:23,24; Amos 9:2 Ibr 4:13
MAHA TAHU: Maz 139:2-4; 147:4,5; Dan 2:7,8; Yes 40:28; Rom 11:33
MAHA KUASA: Yer 32:17; Maz 107:25-29; Dan 4;17,25,35; Ayub 42:2
TIDAK BERUBAH: 1 Sam 15:29; Maz 33:11; Yes 46:10,11; Ibr 1:12; Yak 1:17
SIFAT (MORAL): Suci, Benar, Penuh Rahmat, Murah Hati, Kasih, Kebenaran, Murni dan sifat-sifat lainnya yang memang menjadi bagian dari alam-Nya)
4. Alkitab menyatakan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat Ke-Allahan (dibawah saya lampirkan sifat-sifat Tuhan yang saya ambil daripelajaran Trinitas karangan Frank Breaden yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia – Saya kutip dari Milis atas terjemahan saudara kita)
Yesus disebut Yehovah: (YHWH) Yes 6:5 -- Yoh 12:41; Yes 41:4; 44:6; 48”12’ Wah 1:17; 22:13
5. Alkitab menyatakan bahwa Roh Allah (Roh Kudus, Roh Suci) mempunyai sifat-sifat Ke-Allahan (lihat lampiran)
Roh Kudus juga disebut Yehovah (YHWH): Ibr 3:7 yang merujuk pada peristiwa pengalaman di padang belantara yaitu Maz 95:6-9; (banyak ayat-ayat di Perjanjian Lama yang menyatakan firman Allah, yang disebut sebagai firman Roh Kudus di Perjanjian Baru)
Gambar penjelasan tentang kesamaan Bapa, Anak dan Roh Kudus
TABIAT ALLAH
| | MAHA KUASA | MAHA TAHU | MAHA HADIR | KEKEKALAN |
| BAPA | Why 19 : 6 | Ibr 4 : 13 | Ef 4 : 6 | I Tim 1 : 17 |
| ANAK | Ibr 1 : 3 | Kol 2 : 3 | Mat 18 : 20 | Ibr 1 : 8 |
| ROH KUDUS | Luk 1 : 35 | I Kor 2 : 10, 11 | Kis 8 : 29, 39 | Ibr 9 : 14 |
GELAR ALLAH
| | TUHAN | ALLAH | JURUSELAMAT | KEBENARAN & HIDUP |
| BAPA | Kis 7: 24 | Ibr 1:1 | Tit 3:4 | Ibr 6: 18; Yoh 5: 26 |
| ANAK | Kis 10 : 36 | I Yoh 5 : 20 | Tit 2 : 13 | Yoh 14: 6; I Yoh 5 : 11, 12 |
| ROH KUDUS | II Kor 3 : 17 | Kis 5 : 3,4 | Tit 3 : 5 | 1 Yoh 5: 6, Rm 8 : 10 |
PERBUATAN ALLAH
| | PENCIPTAAN | PENCIPTAAN KEMBALI | TERANG ATAS BIMBANG | TEMPAT TINGGAL (BERTAKHTA) |
| BAPA | Kis 4 : 24 | Ef 4 : 24 | 1 Yoh 1 ; 5 | II Kor 6 : 16 |
| ANAK | Yoh 1 : 3 | II Kor 5 : 17 | Yoh 8 : 12 | Ef 3: 17 |
| ROH KUDUS | Yoh 6: 63 | Tit 3 : 5 | Yoh 16 ; 13 | Rom 8 : 9,11 |
PENYEMBAHAN DAN PENURUTAN, SEPERTI KEPADA ALLAH
| BAPA MENERIMA | Ef 3: 14; Why 5: 8, 12,13; 11 : 16; 19 : 4 |
| ANAK MENERIMA | Ibr 1 : 6; Fil 1 : 10, 11; Yoh 5 : 23; 20: 28; why 5: 8, 12, 13 |
| ROH KUDUS MENERIMA | Ef 6: 18; Yudas 20; Kis 2 : 1-4; 13 : 2; 16: 6, 7; 15 : 28; Why 1 : 4; Ef 2 : 16 |
6. KESIMPULAN
Dari pernyataan Alkitab atau fakta-fakta itulah Umat Kristen mempercayai Trinitas, yaitu dari pernyataan Allah mengenai diri-Nya, dan bukan usaha untuk menguraikan Konsep Trinitas menurut logika. Kepercayaan mutlak adalah bahwa pernyataan Tuhan itulah yang kita imani, kalau Tuhan menyatakan bahwa dia Esa, dan ke-Esaannya dalam bentuk jamak, maka kita terima seperti itu, maka muncullah istilah Trinitas, oleh sebab itu doktrin tersebut sulit untuk dijabarkan, tetapi bisa dinyatakan faktanya sebagai berikut:
1. Kita percaya bahwa Allah itu satu, yang kekal, Maha Hadir, Maha Tahu, Maha Kuasa, Tidak berubah dan sangat tinggi moral-Nya.
2. Satu Allah ini adalah jamak sesuai dengan pernyataan Tuhan sendiri, yang terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
3. Ketiganya ini adalah sama dalam alamiahnya, Ketiganya mempunyai alamiah yang sama.
4. Ketiga Oknum ini mempunyai kepribadian dan tugas masing-masing (Anak berbicara kepada Bapa, dan mengutus Roh Kudus).
The oneness existing between the Father and the Son does not affect the distinct personality of each. And though believers are to be one with Christ, their identity and personality are recognized through the whole of this prayer. {14MR 220.4}
No Destruction of Personality.--Christ is one with the Father, but Christ and God are two distinct personages. Read the prayer of Christ in the seventeenth chapter of John, and you will find this point clearly brought out. How earnestly the Saviour prayed that His disciples might be one with Him as He is one with the Father. But the unity that is to exist between Christ and His followers does not destroy the personality of either. They are to be one with Him as He is one with the Father (RH June 1, 1905). {5BC 1148.2}
5. Ketiga Oknum ini sama di dalam hal usia, alamiah, kuasa dan kepribadian.
6. Ketiga Oknum ini satu dalam kehendak, rencana, tujuan (mereka selalu bersatu, bersatu dalam menciptakan manusia, bersatu dalam menebus manusia)
7. Ketiga Oknum ini tidak sama dalam urutan atau jenjang Jabatan (karena Tuhan adalah Tuhan yang teratur dan saling menghargai – Anak menurut Bapa, Roh Kudus menurut Bapa dan Yesus, dan Bapa adalah yang tertinggi dalam jenjang jabatan)
7. Dengan demikian apabila seorang Kristen berbicara mengenai Allah, maka hal inilah yang menjadi dasar pengertian mereka:
1. Apabila kita berdoa, maka doa kita dibawa kepada Bapa oleh Anak-Nya dibawah pengaruh Roh Kudus. Berdoa kepada salah satu, berarti berdoa kepada semuanya.
2. Apabila kita berkata bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, maka hal ini berarti diciptakan oleh Bapa melalui Anak-Nya dengan kuasa Roh Kudus.
Jadi untuk bagian pertama ini, kesimpulan akhir adalah: Trinitas adalah istilah yang dibuat untuk merangkumkan apa yang dinyatakan oleh Alkitab, tetapi bukan istilahnya yang kita imani, tetapi kenyataan dari pernyataan Tuhan mengenai diri-Nya itulah yang kita imani.
Artinya kalau Tuhan menyatakan bahwa ada Bapa, dan Bapa menyatakan Anak-Nya, dan Alkitab juga menyatakan ada Roh Allah, serta dalam nama (bukan nama-nama), Bapa, Anak dan Roh Kudus kita membaptiskan manusia, maka kita harus imani hal ini.
BAGIAN 2
2. ULASAN SEHUBUNGAN DENGAN APA YANG SAYA PERCAYAI MENGENAI TRINITAS
Pada bagian ini, saya agak lebih bebas mengungkapkan masalah Trinitas dengan hal-hal dibawah ini:
1. Saya hanya orang anggota gereja awam, tidak berlatar belakang teologi (kependetaan), dengan demikian ulasan ini bisa saja kurang tepat, kurang berkenan, maka dengan keterbukaan yang murni, saya menerima saran, arahan, kritik (yang membangun), agar tujuan saya menulis sebagai bahan untuk menguatkan iman tetap pada jalur yang tetap.
2. Saya menyadari bahwa mencoba menerangkan Trinitas dengan benda-benda di jagat raya ini tidak ada yang tepat, tetapi hanya mempermudah pengertian konsep yang kita pelajari.
3. Tujuan saya menulis adalah untuk menguatkan iman sesama anggota, tetapi menyadari latar belakang, serta keterbataan pengetahuan saya pribadi, maka tulisan ini jika salah mohon dibetulkan, jika kurang lengkap mohon dilengkapi, agar bisa berguna bagi sesama kita, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan masukan-masukan dari anggota yang lain (terutama para pakar teologia), agar hal ini menjadi lebih sempurna dan dapat membantu anggota-anggota gereja.
Dengan kerinduan di atas, serta kerinduan agar tulisan ini bisa diperbaiki demi umat Tuhan, maka saya dengan agak leluasa berani mengemukakan pandangan saya. (yang bisa salah dan perlu diperbaiki dan diarahkan)
PANDANGAN:
Masalah Trinitas sering kali ditanyakan dan dibahas disebabkan adanya serangan dari kelompok-kelompok lain, atau adanya kebutuhan untuk bisa menerangkan apa yang kita percayai.
Sebetulnya bagi mereka yang meyakini Trinitas, masalah yang sering timbul adalah, bagaimanakah kita menerangkan hal ini.
1. Bagaimanakah menghadapi tantangan atau pertanyaan dari pihak luar yang menyerang kepercayaan kita (Pihak Luar ini mencakup siapa saja, tidak perlu harus menyempitkan arti ke satu golongan atau kelompok)
2. Bagaimanakah menghadapi ulasan atau doktrin yang muncul dari anggota sendiri, yang berbeda dari kepercayaan umum. (Saya bahas dalam bagian ketiga).
3. Bagaimanakah menerangkan doktrin ini kepada anak-anak kita sendiri.
Itulah masalah yang kita hadapi di dalam kehidupan nyata sehari-hari, dan umat Tuhan sebetulnya memerlukan pegangan untuk menyatakan apa yang kita percayai.
Bagaimana kita mempunyai benteng untuk menghadapi tantangan-tantangan di atas. Oleh sebab itu saya mulaikan dengan harapan hal ini bisa lebih disempurnakan oleh beberapa pihak yang berkompeten, sehingga dapat menjadi bekal yang baik.
Apabila kita pelajari maka atribut Allah di Alkitab bisa dipakai oleh Bapa, Yesus dan Roh Kudus. (Banyak ayat-ayatnya, tapi saya pilih satu saja)
Bapa:
1 Yoh 2:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.
Anak:
Mar 1:1 Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Roh Kudus:
Kej 1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
Dengan demikian atribut Allah (YHWH) adalah bukan nama diri pribadi Bapa, tetapi nama gelar sebagai pencipta, pemelihara, pemberi hidup dsb. (YHWH tidak pernah diucapkan sebagai Yehova, Yahwe, atau Yehuwa, tetapi diucapkan sebagai Adonay atau Ha-Shem – Nama itu, - kebetulan saya baru membahas kontroversi nama Allah di antara umat Islam dan Kristen)
Hal ini berbeda dengan Allah (Alloh) orang Islam, yang memang menurut mereka Allah adalah nama diri (pribadi), sehingga perbedaan pengertian ini sering menimbulkan masalah.
Menurut pandangan orang Islam, maka kata Allah (Alloh) sebagai nama pribadi, maka hal ini adalah nama khusus untuk Tuhan (dalam hal ini pengertiannya adalah Allah Bapa, sebagai satu-satunya Allah). Nama ini tidak boleh diganti, dan tidak boleh dipakai oleh oknum lain, karena hal itu merupakan hujat (musyrik).
Sebagai contoh kita pakai illustrasi dari negeri Paman Sam: Presiden adalah gelar, dan Bush adalah nama pribadinya, Menteri Luar Negeri adalah gelar sedangkang C. Rice adalah nama pribadinya.
Apabila President Bush dan Ministernya C. Rice ingin mengunjungi Indonesia, maka kita bisa mengganti kata President dengan presiden, dan misalnya Foreign Minister dengan Menteri Luar Negeri, tetapi kita tidak boleh mengganti nama pribadinya, kalau namanya diganti maka akan jadi begini:
Presiden Semak (Bush) dengan Menteri Luar Negerinya Nasi (Rice) akan mengunjungi Indonesia. Pasti yang punya nama akan keberatan, karena kita mengganti namanya tanpa ijin (slametan bahasa jawanya).
Oleh sebab itu sekarang ini ada sebagian kelompok orang Islam yang berkeberatan dengan terjemahan Alquran ke bahasa Inggris, karena menerjemahkan Allah menjadi God. Harusnya tetap Allah menurut mereka.
Sedangkan di kepercayaan kita, maka Allah adalah nama gelar, atau istilah yang saya pakai adalah nama keluarga (Marga). Karena Bapa sendiri memperkenalkan Yesus sebagai Anak-Nya, maka kita bisa melihat ada ikatan keluarga.
Jadi saya memakai nama saya sendiri sebagai contoh, karena nama keluarga saya cukup unik sebagai orang Indonesia. Yaitu Elisafan nama lengkap David Jakubus Elisafan.
Nama keluarga Elisafan dipakai saya sendiri sebagai kepala rumah tangga, dan oleh Istri, serta dua anak lelaki dan satu anak perempuan saya.
Disini kita melihat kesatuan dalam kemajemukan. Saya dengan pasti dapat mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada satu keluarga David Elisafan yang mempunyai istri Sioe Lie, serta anak Timothy, Melissa dan Stephen.
Keluarga David Elisafan ini Esa, sebab kalau ada dua di dunia ini yang sama, bisa berabe, anak dan istri saya bingung, manakah David Elisafan yang asli. Mungkin saja ada nama orang yang bisa sama, tetapi jelas bukan pribadi yang sama. Saya tahu bahwa di dunia ini hanya ada satu anak saya yang bernama Timothy, satu yang bernama Melissa, satu yang bernama Stephen. Di dunia ini banyak orang yang bernama Timothy, tapi saya tahu bahwa yang anak saya hanya satu.
Dengan demikian keluarga David Elisafan yang ada satu-satunya di dunia ini, terdiri dari David, Sioe Lie, Timothy, Melissa dan Stephen.
Demikian juga Allah kita (keluarga Allah, karena Bapa sendiri menyebut Dia mempunyai Anak), maka di jagat raya ini, hanya ada satu Allah, yang terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Hanya ada satu keluarga Allah yang mempunyai sifat-sifat seperti itu, tidak ada Allah lain, yang menyerahkan Anak-Nya demi ciptaan-Nya.
Kita kenal dengan Pdt. Yonathan Kuntaraf, (maaf saya meminjam nama anda). Kita semua tahu bahwa hanya ada satu kel. Yonathan Kuntaraf di dunia, yang terdiri dari Bapak Pdt. Y Kuntaraf dan anggota keluarganya. Kalau ada dua atau kembarannya, kita semua, dan juga keluarganya bisa bingung, mana yang benar. Allah kita dalam kasih-Nya sangat jelas menyatakan bahwa Allah adalah jamak (majemuk), dengan memakai kata ELOHIM (jamak), tetapi pada saat melakukan sesuatu, kata kerja yang dipakai adalah tunggal. Pada saat menciptakan memakai kata Bara, yang tunggal, artinya, Allah selalu konsisten memperkenal diri-Nya sebagai jamak, tetapi pada saat bertindak, mereka adalah satu, yaitu tindakan keluarga Allah. Baiklah KITA menjadikan manusia, dan karya ini dinyatakan oleh Tuhan sebagai karya bersama. Sebagai karya keluarga Allah yang tunggal di jagat raya ini. Oleh sebab itu kata kerjanya adalah tunggal. Karena mengatas namakan keluarga Allah yang esa (hanya satu-satunya di jagat raya) (kata BARA adalah kata tunggal)
Pengertian Trinitas atau kepercayaan Trinitas inilah justru yang membedakan kaum Kristen dari umat lainnya. Seringkali kita merasa malu, tetapi justru doktrin inilah doktrin yang paling indah, karena tidak ada rencana keselamatan tanpa tiga oknum keilahian tersebut.
Tanpa Bapa kita tahu tidak ada yang berinisiatif untuk mengaruniakan Anak-Nya demi kita yang bobrok dan berdosa ini, tanpa Kristus tidak ada Juruselamat yang mati menggantikan kita, dan tanpa Roh Kudus, yang tidak bosan-bosannya bergumul dengan kita, agar kita mau menerima rencana keselamatan, dan menghimbau, menguatkan dan mengarahkan kita kepada Yesus dan Bapa.
Ketiga oknum ini saling meninggikan, Bapa meninggikan Anak-Nya:
Ibr 1:5 Sebab Allah tidak pernah mengatakan kepada malaikat mana pun, "Engkau adalah Anak-Ku, dan pada hari ini Aku mengaruniakan kepada-Mu kemuliaan yang menyertai nama itu." Tetapi kepada Yesus Allah sudah mengatakan demikian. Pada kesempatan lain Ia berkata, "Akulah Bapa-Nya, dan Dialah Anak-Ku." Dan pada kesempatan lain lagi—ketika Anak-Nya yang sulung itu datang ke dunia—Allah berkata, "Hendaklah semua malaikat Allah menyembah Dia." (FAYH).
Yesuspun meninggikan Roh Kudus, justru hujat terhadap Roh Kudus tidak bisa diampuni.
Apabila kita datang kepada Bapa, Bapa akan menyatakan Anak-Nya yang telah mati, dan jika kita datang kepada Anak, Anak akan mengarahkan kita kepada Roh Kudus, dan juga Bapa, karena Anak menyatakan Bapa, dan kalau kita datang ke Roh Kudus, Roh Kudus akan membawa kita kepada Kristus dan Bapa, karena semua mempunyai kasih yang sama, tujuan yang sama.
Pada saat menciptakan, semua bersatu menciptakan manusia, pada saat menebus, semua juga bersatu dan menderita bersama. Selalu satu tujuan dalam kasih yang begitu sangat menakjubkan. Berbeda dengan ilah lain, karena ada yang menciptakan, ada yang memelihara, dan ada yang merusak. Tetapi Allah kita, selalu bersatu dalam menciptakan manusia, dan bersatu dalam memelihara manusia, dan bersatu dalam menyelamatkan manusia.
Sekali lagi saya menekankan bahwa keluarga Allah itu esa, sebagaimana bangsa Indonesia itu hanya satu di dunia, yang terdiri dari Presiden, para menteri dan rakyatnya.
Jadi Tuhan kita selalu memakai kata Elohim (jamak), tetapi menciptakan menggunakan kata Bara yang tunggal. Artinya sebagai satu keluarga yang terdiri dari tiga pribadi, menciptakan dunia kita. Sebagai satu keluarga yang esa, YHWH menciptakan, dan keluarga yang esa ini terdiri dari tiga anggota keluarga.
Keluarga Allah itu esa, tidak ada duanya di jagat raya (bukan hanya di dunia ini), dan keluarga yang esa ini, terdiri dari tiga pribadi.
The oneness existing between the Father and the Son does not affect the distinct personality of each. And though believers are to be one with Christ, their identity and personality are recognized through the whole of this prayer. {14MR 220.4}
I wish that we could comprehend this wonderful prayer. In it our privileges and possibilities are plainly outlined. We need to watch unto prayer. We need to be constantly on guard lest we fail of gaining the oneness for which Christ prayed. {14MR 220.5}
Jadi bagi saya pribadi, saya tidak pernah merasa malu, atau bingung mempercayai Trinitas, karena Tuhan sendiri yang memperkenalkan Yesus sebagai Anak-Nya, jadi kita tahu ada hubungan keluarga, sedangkan Roh Kudus adalah pelaksana atau Abdi Allah, (Kalau ingin mempelajari hal ini, pelajari hubungan antara Abraham, Ishak dan Eliezer, dimana Eliezer bertindak penuh untuk keluarga Abraham).
Seandainya kemudian ada orang bertanya, bagaimanakah Yesus itu muncul, atau lahir pada mulanya, apakah ada Ibu Allah?. Jawaban saya adalah itulah Tuhan yang berkuasa, saya lebih senang mempunyai Tuhan yang maha hebat, yang saya tidak bisa terangkan, maka keberadaan Yesus, Bapa dan Roh Kudus, adalah misteri ke Allahan, yang saya tidak bisa dan tidak mau menguraikan. Alangkah sombongnya manusia mencoba menguraikan keberadaan Tuhan. Saya hanya mempercayai apa yang telah dinyatakan. Karena Alkitab hanya menyatakan Bapa, Anak dan Roh Kudus, itulah yang saya percayai (Trinitas), tanpa harus mengerti bagaimana asal-usul dan munculnya mereka.
CATATAN: ULASAN DI ATAS ADALAH ULASAN PRIBADI, JADI BISA SALAH, DAN DENGAN HATI TERBUKA SAYA BUKAN SAJA MENERIMA, TETAPI MENGHARAPKAN ARAHAN DARI ANGGOTA YANG LAIN, DAN PARA PAKAR TEOLOGIA, MAKLUM PENULIS ADALAH ANGGOTA AWAM BIASA TANPA LATAR BELAKANG TEOLOGIA.
CATATAN PRIBADI: Secara pribadi saya tidak comfortable memakai istilah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, walaupun organisasi memakai istilah ini. Di Alkitab tidak pernah memakai istilah ini, juga di tulisan Ny. White tidak ada frase Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, yang ada adalah Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus. Ada sedikit perbedaan pengertian, kalau kita menggunakan istilah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, nampaknya seperti ada beberapa jenis Allah, tetapi kalau kita memakai istilah Alkitab dan Roh Nubuat, maka tercermin gambar hubungan keluarga yang nyata sesuai dengan pernyataan Alkitab, yaitu Allah Bapa, Anak Allah, dan Roh Kudus. Saya tidak menyalahkan yang menggunakan istilah di atas, hanya saya lebih sreg (comfortable) dengan pernyataan hubungan keluarga yang ada, sesuai dengan istilah yang dipakai Alkitab dan Roh Nubuat.
BAGIAN 3
3. MENINJAU BEBERAPA AJARAN YANG MENYANGKAL TRINITAS YANG TELAH MUNCUL DI GEREJA KITA DI INDONESIA.
Bagian ini saya ingin membahas mengenai beberapa ajaran yang telah muncul di gereja kita yang tidak sejalan dengan pengertian Trinitas.
Dalam kesempatan ini, saya tidak membahas penulis atau pembahasnya, karena kita semua adalah sama sebagai manusia yang berdosa, dan sama-sama umat Tuhan, dan jikalau ada yang harus keluar dari gereja, kita semua mengharapkan agar semua orang bisa bersatu kembali dengan gereja.
Yang saya bahas adalah doktrinnya, dan tidak perlu membahas pribadi-pribadinya, karena konsep sya adalah priesthood of believers. Kita semua sebagai saudara dalam Tuhan, dan saling menghimbau, mengingatkan dan menguatkan.
Timbulnya doktrin yang dirasakan berbeda, karena kerinduan saudara-saudara kita untuk menginjil atau mencari persamaan dengan umat Islam, atau dengan konsep tauhid, atau Tuhan yang esa.
1. Allah itu Esa, sehingga Yesus adalah utusan atau ciptaan.
Paham ini sudah lama beredar di gereja kita, sehingga ada gereja-gereja yang akhirnya harus terpecah. Karena ingin mempertahankan keesaan Tuhan, maka akhirnya paham yang dianut lebih cenderung ke Saksi Yehovah, dengan menyatakan bahwa Yesus adalah ciptaan.
Ayat yang dipakai adalah Wahyu 3:14 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
Kata arche yang dipakai memang bisa pasif dan bisa aktif, artinya bisa diciptakan atau menciptakan, tetapi dalam ayat ini, sesuai dengan ayat yang lain, atinya adalah aktif, artinya Yesus adalah permulaan (asal-usul) dari semua ciptaan, sesuai dengan ayat-ayat lain, bahwa Yesus adalah pencipta. Oleh sebab itu Alkitab Firman Allah Yang Hidup, yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya adalah sebagai berikut: Wahyu 3;14 (FAYH) "Tuliskanlah surat ini kepada pemimpin jemaat di Laodikia: "Pesan ini dari Dia yang teguh, Saksi yang setia dan benar (dari semua perkara yang ada sekarang, dahulu, dan yang akan datang), sumber segala ciptaan Allah:
Dalam hal ini disebut sebagai SUMBER segala ciptaan Allah, dan hal ini adalah benar, sesuai dengan semua ayat-ayat lain yang ada di Alkitab.
Para pendukung paham ini, kebetulan saya memang beberapa kali mengadakan pertemuan dengan mereka, selalu mengandalkan ilmu kata-kata, sehingga untuk mengerti ayat yang jelas seperti Yoh 1:1-2 menjadi sulit, padahal ayatnya sangat jelas, dan marilah kita merenungkan sejenak Yoh 1:1 (FAYH) SEBELUM segala sesuatu ada, Kristus sudah ada bersama dengan Allah. (2) Ia selalu hidup dan Ia sendiri adalah Allah. (3) Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan tidak sesuatu pun ada, kalau tidak diciptakan oleh-Nya.
Ayat yang dengan jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, dan menciptakan segala sesuatu harus dibantah dengan ilmu bahasa. Sungguh sangat disayangkan bahwa ayat-ayat yang jelas, justru harus dikaburkan karena ilmu pengetahuan manusia.
Ada beberapa ayat lain yang dipakai, tetapi justru kalau di baca di Alkitab FAYH, maka dengan jelas menyatakan bahwa Yesus itu Allah.
Fil 2: 5 Hendaklah Saudara bersikap seperti Yesus Kristus, (6) yang tidak menuntut dan tidak tetap berpegang kepada hak-hak-Nya sebagai Allah, meskipun sebenarnya Dia Allah.
Ayat lain yang dipakai adalah Kol 1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,.
Jadi menurut kelompok ini, bahwa Yesus adalah yang lebih utama dari semua yang diciptakan, artinya Yesus diciptakan, tetapi yang lebih utama, karena kemudian diangkat menjadi Anak Allah. Pada intinya adalah Yesus adalah ciptaan yang diangkat menjadi Anak Allah, atau diangkat menjadi Tuhan.
Ayat yang sama dalam terjemahan FAYH adalah sebagai berikut:
Kol 1:15 Kristus adalah gambaran yang tepat dari Allah yang tidak kelihatan. Ia sudah ada sebelum Allah menciptakan suatu apa pun. Sesungguhnya (16) Kristus sendiri adalah Pencipta, yang menjadikan segala sesuatu di langit dan di bumi, segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; dunia roh dengan raja-raja dan kerajaannya, dengan penguasa-penguasa dan pemerintah-pemerintahnya. Semuanya dijadikan oleh Kristus bagi diri-Nya dan bagi kemuliaan-Nya.
2. Kepercayaan Lain Yang Berkembang Adalah Bahwa Tuhan itu satu, dan Membagi diri-Nya.
Dalam kepercayaan ini, disebutkan bahwa Allah membagi diri-Nya melalui Roh Kudus menjadi Yesus, dan illustrasi yang diberikan adalah orang-orang sufi (orang suci orang Islam) dapat membagi dirinya, atau berada ditempat lain pada saat yang sama, tetapi tidak dianggap dua, melainkan tetap satu.
Pengertian ini menimbulkan beberapa masalah, seperti pada saat Tuhan menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Tunggal yang dikasihi, sebetulnya adalah Diri Allah sendiri yang dikasihi-Nya, dan pada saat Tuhan Yesus memohon kepada Bapa-Nya di Getsemani, sebetulnya berdoa kepada diri-Nya sendiri, dan pada saak duduk di tahta Bapa disebelah kanan Bapa, sebetulnya adalah duduk disebelah diri sendiri, atau Bapa sendiri, dan jelas bertentangan dengan konsep the heavenly trio yang ditulis oleh Ny. White.
The Comforter that Christ promised to send after He ascended to heaven, is the Spirit in all the fullness of the Godhead, making manifest the power of divine grace to all who receive and believe in Christ as a personal Saviour. There are three living persons of the heavenly trio; in the name of these three great powers --the Father, the Son, and the Holy Spirit--those who receive Christ by living faith are baptized, and these powers will co-operate with the obedient subjects of heaven in their efforts to live the new life in Christ.-- Special Testimonies, Series B, No. 7, pp. 62, 63. (1905) {Ev 615.1}
20-23. No Destruction of Personality.--Christ is one with the Father, but Christ and God are two distinct personages. Read the prayer of Christ in the seventeenth chapter of John, and you will find this point clearly brought out. How earnestly the Saviour prayed that His disciples might be one with Him as He is one with the Father. But the unity that is to exist between Christ and His followers does not destroy the personality of either. They are to be one with Him as He is one with the Father (RH June 1, 1905). {5BC 1148.2}
Di dalam Bible Commentary dalam pasal yang berjudul:
III. Three Persons in the Godhead
Maka ada keterangan yang menyebutkan keterpisahaan pribadi Ilahi, tetapi jelas bersatu dalam keluarga Allah.
There are three living persons of the heavenly trio; in the name of these three great powers--the Father, the Son, and the (442) Holy Spirit--those who receive Christ by living faith are baptized, and these powers will co-operate with the obedient subjects of heaven in their efforts to live the new life in Christ.-- Evangelism, p. 615. {7ABC 441.9}
The prophet Isaiah bears testimony, "For unto us a child is born, unto us a Son is given: and the government shall be upon His shoulder: and His name shall be called Wonderful, Counsellor, The mighty God, The everlasting Father, The Prince of Peace" (Isaiah 9:6). {MR760 17.3} John, the beloved disciple, bears witness: [John 1:1-4, 14-16: 3:34-36 quoted.] {MR760 18.1} In this Scripture God and Christ are spoken of as two distinct personalities, each acting in their own individuality. {MR760 18.2}
Dalam buku Miscellaneous Collection 1 NL dalam judul:
Distinct Personalities
Ny. White menuliskan
These words present God and Christ as two distinct personalities. {1NL 124.6}
Christ prays that a pure, holy love may bind His followers to Himself, and to the Father, that this close fellowship may be a sign that God loves as His own Son those who believe in Him. {1NL 124.7} Still the Son of God urges His petition to His Father, Read John 17:24-26. {1NL 124.8}
Jadi Yesus tetap melakukan petition kepada Bapa-Nya, bukan kepada dirinya sendiri.
Jelas menurut Ny. White, bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda, bukan pribadi yang sama yaitu Bapa yang menggandakan diri-Nya.
Catatan Akhir:
Kiranya hal ini berguna bagi anggota gereja, dan sekali lagi saya tekankan, bahwa tulisan ini bersifat Open Source kalau di dunia Information Technology, artinya bebas untuk ditambahkan agar lebih sempurna, tetapi jika sudah ada yang menambahkan, ya mohon di share kembali ke semua.
NB. Sudah cukup lama saya ingin menulis, tetapi tugas-tugas serta perjalanan cukup menyita waktu, tetapi kerinduan untuk berbagi tetap menyala, sehingga saya berusaha untuk menuliskan tulisan ini, hanya saja, saya harus akui, saya belum sempat untuk menerjemahkan kutipan-kutipan bahasa Inggris, serta banyak pengalaman-pengalaman pribadi yang belum sempat saya bagikan, dan saya sadari ketergesaan menulis membuat tulisan ini sangat jauh dari sempurna , tetapi saya harapkan ada yang menyempurnakan. Hanya saja kalau saya harus menunggu sampai sempurna, maka memerlukan waktu yang lebih lama lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)